3 Mitos Mobil Listrik: Kebakaran, Baterai Mahal, dan Tagihan Listrik — Dibongkar
- Admin
- EV , Hybrid , Bensin , Panduan Beli
- 06 Jan, 2026
- 03 Mins read
3 Mitos Mobil Listrik: Kebakaran, Baterai Mahal, dan Tagihan Listrik — Dibongkar
Siapin kopi, kita ngobrol santai tapi pake data. Banyak yang masih ragu pindah ke mobil listrik karena tiga pertanyaan klasik: aman nggak (kebakaran), nanti baterainya rusak mahal gimana, dan ngecas di rumah bikin tagihan listrik meledak nggak? Di artikel ini kita bongkar tiga mitos itu pakai logika plus hitungan simpel berdasarkan angka yang ada.
Kenapa topik ini penting buat kamu
Khusus buat yang tinggal di kota besar (Jabodetabek dan sejenisnya), dua musuh transportasi itu jelas: macet dan biaya energi. Elektrifikasi kendaraan jadi solusi yang makin digencarkan, tapi keputusan untuk pindah harus didasari informasi yang jujur dan terukur — bukan cuma heboh di grup WA.
Mitos 1 — “Mobil listrik itu bom waktu, gampang kebakaran”
Berita mobil listrik kebakaran memang ada, tapi jangan langsung tarik kesimpulan ekstrem. Faktanya, semua kendaraan bisa kebakar; mobil bensin pun menyimpan bahan bakar yang mudah terbakar di bawah jok atau tangki belakang.
Pada EV, ada sistem bernama BMS (Battery Management System) yang ngawasin suhu, tegangan, dan arus. Kalau ada kondisi abnormal, BMS bisa batasi daya atau cut-off untuk mengurangi risiko. Selain itu, faktor yang benar-benar menentukan keamanan biasanya:
- kualitas desain pabrikan,
- sistem thermal management (pendinginan baterai),
- dan jangan ada modifikasi kelistrikan yang asal-asalan.
Intinya: EV tidak kebal risiko, tapi juga bukan ‘bom waktu’ jika diproduksi dan dipakai sesuai rekomendasi. Perawatan rutin dan pemakaian normal (tidak sering overcharge, tidak sering kena suhu ekstrem tanpa proteksi) juga bantu menurunkan risiko.
Mitos 2 — “Baterai harus diganti 3–5 tahun dan semahal mobil baru”
Betul: baterai EV komponen utama dan mahal. Tapi ada beberapa hal yang sering lupa dikatakan:
- Banyak pabrikan kasih garansi baterai panjang, umum sekitar 8 tahun, bahkan beberapa klaim sampai lebih.
- Degradasi baterai biasanya bertahap; jarang drop dari 100% ke 0 dalam hitungan hari.
- Kalau ada kerusakan, tidak selalu harus ganti satu pack utuh — pada beberapa kasus perbaikan per modul memungkinkan (meski tetap relatif mahal dibandingkan komponen biasa).
Jadi narasi “pasti ganti dan seharga mobil baru” itu terlalu simplistik dan seringkali tanpa konteks garansi dan pola degradasi.
Mitos 3 — “Ngecas di rumah bikin tagihan listrik segede cicilan rumah”
Tagihan listrik rumah pasti naik kalau mulai ngecas EV. Tapi pertanyaan yang relevan adalah: berapa besar kenaikannya dibanding biaya bahan bakar yang sebelumnya kalian keluarkan?
Data & asumsi perhitungan (sederhana dan transparan)
Asumsi yang dipakai di video (kita pakai angka yang disebut):
- Konsumsi MG4 EV di dalam kota: ~9 kWh per 100 km (sumber: GridOto).
- Tarif listrik asumsi setelah bulatkan: Rp 2.000 per kWh (mengambil PLN 7700 VA + PJU/admin dibulatkan — lihat sumber tarif PLN/CNBC untuk angka resmi).
- Konsumsi Honda WR-V di dalam kota: ~16 km/liter → setara ~6,25 L/100 km (sumber: GridOto).
- Harga Pertamax asumsi: Rp 12.500 per liter.
Perhitungan singkat:
- EV (MG4): 9 kWh × Rp 2.000 = Rp 18.000 per 100 km.
- Bensin (WR-V): 6,25 L × Rp 12.500 ≈ Rp 78.125 per 100 km.
Dari angka itu jelas biaya energi per 100 km untuk EV jauh lebih rendah dalam contoh ini. Memang ada losses (efisiensi charger, baterai), tapi menurut pengalaman practical, losses tidak mengubah rentang perbandingan secara drastis.
Pengalaman pemakai juga relevan: setelah pakai mobil listrik (contoh: Aion Y+), beberapa orang melaporkan pengeluaran energi turun menjadi sekitar sepertiga sampai seperempat dari biaya saat menggunakan LMPV 1500cc matic.
Hal yang sering dilupakan orang
- Infrastruktur charging publik: buat roadtrip antarkota, ketersediaan fast-charging yang andal masih krusial.
- Pola hidup: kalau kalian bisa ngecas di rumah setiap malam, EV lebih mudah jadi win. Kalau sering parkir di jalan tanpa akses listrik, itu problem nyata.
- Depresiasi dan pasar bekas: faktor yang nanti memengaruhi total cost of ownership, tergantung model dan kebijakan insentif.
- Perilaku pengemudi: fast charging terus-menerus, modifikasi kelistrikan, atau kondisi ekstrem suhu bisa percepat degradasi.
Kalau mau lebih detail: uji dan link terkait
Di video aslinya ada link ke pembahasan lebih dalam soal degradasi baterai, perbandingan biaya 10 tahun, dan simulasi head-to-head EV vs bensin. Kalau kalian mau angka yang bisa dimasukkan sendiri (mis. tarif listrik berbeda di daerah atau harga BBM lain), itu bisa dikustomisasi.
Penutup singkat
Gua tahu topik ini bisa memancing opini kuat, makanya fokus gua di sini: jelasin dengan data dan logika, bukan sekadar ikut-ikutan hype atau fearmongering. Sekarang giliran kalian: mitos apa lagi soal EV yang sering kalian dengar? Tulis di kolom komentar, like, share, dan jangan lupa subscribe supaya gak ketinggalan diskusi kita berikutnya.