Type something to search...

i2C: SUV Listrik 7-Seater Indonesia yang Bercita-cita jadi Mobil Nasional?

i2C: SUV Listrik 7-Seater Indonesia yang Bercita-cita jadi Mobil Nasional?

Kopi santai dulu: kita bakal bedah rencana i2C, SUV listrik besar 7-seater yang lagi dipamerin sebagai calon mobil nasional Indonesia. Dari sisi konten otomotif, ini menarik karena ada kombinasi antara desain konsep, target kinerja, dan tantangan produksi massal. Yang unik, pameran di GIIAS Juli 2025 itu masih clay model 1 banding 1—belum unit produksi. Roadmapnya juga udah jelas soal prototipe dan crash test, meski eksekusinya tetap tergantung banyak faktor di industri.

Kenapa Topik Ini Penting Buat Kamu

i2C dibawa oleh PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) dengan konsep “Indonesia Indigenous Car.” Ini menarik karena menantang arah pasar EV keluarga di Indonesia: bagaimana sebuah brand baru bisa masuk dengan kombinasi desain, engineering, dan jaringan aftersales yang kuat. Kita akan lihat apakah speknya realistis untuk harga yang diiklankan, bagaimana strategi produksi berlangsung, dan bagaimana ADAS serta ekosistemnya bisa relevan untuk jalanan Indonesia.

Ringkasan Spek dan Konteks Pameran

Apa yang dipamerkan (belum mobil produksi, hanya clay model 1:1):

  • SUV besar 3 baris, 7-seater (flagship)
  • Baterai: 83,4 kWh
  • Jarak tempuh: 617 km (standar CLTC)
  • Motor listrik: single motor RWD, 150 kW (204 PS), torsi 310 Nm
  • Akselerasi 0–100 km/jam: 9,1 detik
  • Top speed: 200 km/jam
  • Pengisian: DC fast charging 150 kW, AC 11 kW

Di atas kertas, spek-nya oke untuk pasar mobil listrik keluarga. Yang bikin menarik: target harga di bawah 500 juta rupiah. Ini bikin banyak orang bertanya: akankah benar bisa nyentuh kelas harga itu dengan ukuran dan fitur sebesar ini?

Perbandingan Pasar: Mana yang Menuju Harga Itu?

Pasar EV di bawah 500 juta sebenarnya sudah ada, banyak pemain Cina dengan nilai funsi-rasio yang oke. Contoh umum: BYD Atto 3, Chery Omoda E5, Aion Y+, dsb. Mayoritas 5-seater atau crossover ukuran kompak. Opsi 3-baris memang ada (BYD M6, Wuling Darion), tapi itu masih berada di segmen MPV atau ukuran berbeda. Intinya, i2C mengincar spot yang agak unik: SUV listrik besar 7-seater dengan harga terjangkau—di konteks Indonesia, itu gap pasar yang signifikan jika terealisasi.

Tantangan Realita Industri EV

Pengalaman banyak pelaku industri EV menunjukkan: membuat EV dari nol itu puyeng. Timeline sering kejar-kejaran, biaya bisa meleset, dan testing memakan waktu panjang. Efeknya, banyak pabrikan newbie mulai dari basis platform/komponen dari mitra lain sebagai strategi awal. Contoh historis di regional: rebadge atau kerja sama dengan produsen lain untuk memulai, baru kemudian berkembang sendiri.

Hal ini berdampingan dengan kenyataan bahwa supply chain, QC yang konsisten, tooling, serta aftersales adalah faktor kunci. Tanpa itu, konsep hebat bisa jadi hanya pajangan. i2C pun jika benar jalan, perlu menunjukkan bagaimana mereka membangun ekosistem produksi, sertifikasi, hingga servis dan sparepart yang bisa diandalkan.

Strategi Pengembangan & Jalur Produksi

Roadmap yang disebut di acara pameran:

  • 2026: sekitar 40–50 unit prototipe untuk feasibility dan crash test
  • Produksi massal: sekitar akhir 2027 atau awal 2028

Kalau jalurnya adalah menggunakan platform/komponen inti dari partner global, itu bisa jadi langkah yang realistis untuk mengejar timeline. Tapi penting, seperti yang disorot, adalah bagaimana mereka membuktikan engineering integration, kualitas, validasi, dan bagaimana membangun ekosistem produksi—bukan sekadar “kita punya desain”.

Satu faktor kunci: ADAS dan data target. i2C bisa jadi laboratorium berjalan teknologi Indonesia jika fokus utamanya pada ADAS yang bisa dilatih dengan dataset jalanan Indonesia. Itu value teknologi yang besar, terutama kalau dibarengi dengan standar keselamatan dan trust konsumen.

ADAS dan Kesiapan Jalanan Indonesia

Jalanan kita unik: penerangan kadang minim, marka pudar, hujan deras bikin kamera “blind”, ada motor yang bergerak semaunya, serta budaya berkendara yang berbeda. ADAS yang benar-benar dilatih dengan data Indonesia punya potensi besar, karena bisa meningkatkan keselamatan melalui respons yang lebih relevan dengan kebiasaan lalu lintas setempat. Ini bukan hanya soal kamera dan radar, tapi juga data, kalibrasi, dan adaptasi ke kondisi lokal.

Aftersales, Jaringan Distribusi, dan Ekosistem

Ini bagian krusial buat brand baru. Indonesia butuh jaringan servis dan ketersediaan sparepart yang jelas. Model hub-and-spoke bisa jadi strategi awal: hub di kota-kota besar sebagai service center utama dan gudang parts regional; spokes lewat bengkel rekanan yang dilatih SOP terkait EV. Kolaborasi ekosistem juga relevan, misalnya dengan PLN sebagai touchpoint SPKLU dan layanan digital terkait ekosistem EV. Nilai tambahnya bukan hanya mobil itu sendiri, tetapi bagaimana konsumen bisa merasakan kemudahan servis dan akses ke jaringan aftersales.

Harga Bekas, Nilai Resale, dan Strategi Harga

Topik resale value itu sensitif. Kalau i2C ingin dipercaya publik, mereka perlu strategi untuk menjaga harga jual kembali. Discouraging diskon besar untuk mobil baru, menawarkan garansi yang kuat (transferable kalau bisa), program certified pre-owned atau trade-in, serta kerja sama ekosistem yang jelas. Hal-hal seperti ini penting supaya pembeli tidak menunda pembelian karena khawatir nilai bekas turun drastis.

Kesimpulan Seruput Tech

i2C berpotensi mengisi gap EV 7-seater di pasar Indonesia: SUV listrik besar dengan spek cukup menarik dan target harga kompetitif. Namun realitas produksi, ketersediaan aftersales, serta ekosistem pendukungnya adalah kunci keberhasilan. Jika roadmap prototipe 2026, crash test, serta rencana jaringan sales dan servis bisa diwujudkan secara konsisten, i2C bisa menjadi contoh “laboratorium berjalan” teknologi Indonesia.

Kalau kamu tipe yang fokus pada eksekusi nyata, i2C layak kita pantau lebih lanjut: lihat bagaimana prototipe 2026 berkembang, bagaimana mereka menjalankan crash test, bagaimana rencana sales & servis terealisasi, serta bagaimana konsistensi harga dan dukungan aftersalesnya terwujud. Kalau prioritas kamu adalah kenyamanan harga dan layanan terukur, pastikan mereka punya program garansi yang kuat, jaringan servis yang jelas, serta strategi resale yang transparan. Intinya adalah progres nyata, bukan hanya hype di berita.


Artikel terkait

3 Mitos Mobil Listrik: Kebakaran, Baterai Mahal, dan Tagihan Listrik — Dibongkar

3 Mitos Mobil Listrik: Kebakaran, Baterai Mahal, dan Tagihan Listrik — Dibongkar Siapin kopi, kita ngobrol santai tapi pake data. Banyak yang masih ragu pindah ke mobil listrik karena tiga pertanya

read more